## RENUNGAN AKHIR TAHUN ##



Kita sudah relatif jauh mengarungi samudera kehidupan. Banyak yang sudah kita lihat dan raih. Tapi masih banyak yang kita keluhkan.

Mari kita berhenti sejenak. Bukalah kembali peta perjalanan hidup. Lihatlah berapa jauh jarak yang telah kita tempuh dan sisa perjalanan yang harus kita lalui.

Tak lama lagi, episode kehidupan yang kita lakoni di dunia akan segera berakhir. Kita semua berharap agar Allah menutup usia kita dalam keadaan husnul khatimah.

Persoalannya adalah, amal shaleh apa yang dapat kita jadikan bekal menuju hari esok??

Keterperdayaan terbesar kita adalah terus-menerus melakukan dosa karena memiliki harapan akan ampunan Allah. Ini adalah kesalahan besar. Sebab selain menjanjikan ampunan, Allah juga mengancam dengan azab-Nya yang pedih, sebagaimana firman-Nya,

“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku,
bahwa Akulah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (Al-Hijr [15]: 49-50)

Dalam ayat lain Allah berfirman,

“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka? Alangkah buruknya penilaian mereka itu.” (Al-Jasiyah [45]: 21)

Yakni orang-orang yang melakukan dosa dan amalan tercela menyangka kelak di akhirat mereka disamakan dengan orang-orang yang beramal shaleh! Tidak mungkin! Buruk sekali apa yang mereka sangka itu.

Ma’ruf al-Karkhi berkata, “Harapanmu terhadap rahmat Dzat yang tidak engkau taati adalah sebuah kebodohan.”

Disisi lain kita merasa kagum dan bangga dengan ibadah yang telah kita lakukan. Padahal orang-orang shaleh selama-lamanya selalu rindu kepada Allah dan takut kalau ibadah yang mereka lakukan tidak diterima.

Ibnul Qayyim berkata: “Puas dengan ketaatan yang telah dilakukan adalah diantara tanda kegelapan hati dan ketololan.” Ia menambahkan, keraguan dan kekhawatiran dalam hati bahwa amal tidak diterima harus disertai dengan mengucapkan istighfar setelah melakukan ketaatan.

Karenanya, merupakan kewajiban bagi kita (yang percaya kepada Allah dan Hari Akhir) untuk tidak lalai dari mengintrospeksi diri.

Merenung dalam kesendirian merupakan sarana yang mampu membeningkan hati. Dengan merenung kita dapat melihat dengan jernih apa-apa yang telah kita perbuat selama ini.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

”Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (AL-Hasyr [59]: 18)

Banyak kebaikan yang didapat dari merenung (mengintrospeksi diri), diantaranya,

@ Mengkonsentrasikan hati untuk mengingat Allah.
@ Menjauhkan dari para pendengki, pencaci, pencari aib, dan penyuka kesalahan-kesalahan.
@ Pembersihan otak dari kotornya pikiran.
@ Penenang batin dari kegalauan akan banyaknya problem.
@ Memenjara tabiat dan kebiasaan tidak baik.
@ Penjauhan diri dari sebab-sebab kekasaran hati dikarenakan banyak melihat, banyak mendengar, banyak bercanda, berlebihan dalam tertawa, berteman dengan orang-orang bodoh, dan bercengkrama dengan orang-orang dungu.

Inilah yang semestinya kita lakukan menyongsong datangnya tahun baru. Hitunglah amal perbuatanmu sebelum engkau dihisab kelak.

Pembatal-pembatal wudhu

Telah kita ketahui bersama bahwa hadats adalah suatu keadaan yang mengharuskan seseorang untuk bersuci, baik itu hadats besar maupun hadats kecil. Dan telah dijelaskan bahwa hadats besar adalah hadats yang hanya bisa dihilangkan dengan mandi junub dan yang semacamnya, sementara hadats kecil adalah yang bisa dihilangkan cukup dengan wudhu, walaupun bisa juga dihilangkan dengan mandi. Edisi kali ini kami akan membahas mengenai pembatal wudhu atau hadats kecil dan sedikit menyinggung tentang hadats besar.

Sebelum kami mulai, maka di sini ada satu kaidah yang perlu diperhatikan, yaitu: Asal seseorang yang telah berwudhu adalah wudhunya tetap syah sampai ada dalil shahih yang menyatakan wudhunya batal. Setelah ini dipahami, maka ketahuilah bahwa pembatal wudhu secara umum terbagi menjadi dua jenis:A.Yang disepakati oleh para ulama bahwa dia adalah pembatal wudhu.

1.Tinja dan kencing.

Berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Atau salah seorang di antara kalian datang dari buang air atau kalian menyentuh wanita lalu dia tidak menemukan air, maka bertayammumlah kalian dengan tanah yang baik.” (QS. Al-Maidah: 6)
Juga hadits Shafwan bin Assal dia berkata, “Nabi -shallallahu alaihi wasallam- memerintahkan kami kalau kami sedang safar agar kami tidak melepaskan sepatu-sepatu kami selama tiga hari-tiga malam kecuali kalau dalam keadaan junub, akan tetapi kalau buang air besar, kencing dan tidur.” (HR. At-Tirmizi)
Semisal dengannya wadi, dia adalah air yang keluar setelah seseorang melakukan suatu pekerjaan yang melelahkan atau sesaat setelah selesai kencing. Hukumnya sama seperti kencing.

2. Madzi, yaitu cairan yang keluar dari kemaluan ketika sedang melakukan percumbuan dengan istri atau ketika mengkhayalkan hal seperti itu.
Berdasarkan hadits Ali bin Abi Thalib dari Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bahwa beliau bersabda tentang seseorang yang mengeluarkan madzi,
“Hendaknya dia mencuci kemaluannya dan berwudhu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

3. Kentut.
Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- memberi fatwa kepada seseorang yang ragu apakah dia kentut dalam shalat ataukah tidak, “Jangan dia memutuskan shalatnya sampai dia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Zaid)

4. Semua hadats besar juga adalah pembatal wudhu, yaitu: Keluarnya mani, jima’, haid, nifas, hilangnya akal dengan pingsan, gila atau mabuk dan murtad. Insya Allah semua ini akan kami bahas pada pembahasan mandi wajib.

<>Sedangkan yang diperselisihkan oleh para ulama apakah dia pembatal wudhu:

1. Tidur.
Ada dua jenis dalil yang lahiriahnya bertentangan di sini. Yang pertama adalah hadits Shafwan bin Assal yang telah berlalu, yang menunjukkan bahwa tidur adalah pembatal wudhu. Yang kedua adalah dalil-dalil yang menunjukkan bahwa para sahabat pernah lama menunggu Nabi -shallallahu alaihi wasallam- untuk keluar melaksanakan shalat isya, sampai-sampai sebagian di antara mereka tertidur kemudian bangun kemudian tertidur lagi kemudian tertidur lagi, baru setelah itu Nabi keluar untuk mengimami mereka. (HR. Al-Bukhari) Bahkan dalam sebuah riwayat Abu Daud dari Anas disebutkan, “Kemudian mereka mengerjakan shalat dan mereka tidak berwudhu.” Maka hadits ini menujukkan bahwa tidurnya mereka tidak membatalkan wudhu mereka.
Yang benar dalam masalah ini adalah pendapat yang membedakan antara tidur yang nyenyak dengan tidur yang tidak nyenyak atau sekedar terkantuk-kantuk. Yang pertama membatalkan wudhu -dan tidur inilah yang dimaksudkan dalam hadits Shafwan-, sedang tidur yang kedua tidak membatalkan wudhu -dan inilah yang dimaksudkan dalam hadits Anas-, wallahu a’lam. Ini adalah pendapat Malik, Az-Zuhri, Al-Auzai dan yang dikuatkan oleh Ibnu Qudamah, Ibnu Rusyd, Ibnu Abdil Barr, Asy-Syaikh Ibnu Bazz dan Asy-Syaikh Muqbil -rahimahumullah-.
[Lihat An-Nail: 1/190, Syarh Muslim karya An-Nawawi: 4/74 dan Al-Ausath: 1/142]

2.Darah istihadhah.

Dia adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita, bukan pada waktu haidnya dan bukan pula karena melahirkan.
Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini adalah bahwa darah istihadhah tidaklah membatalkan wudhu, karena tidak adanya dalil shahih yang menunjukkan hal itu. Dan hukum asal pada wudhu adalah tetap ada sampai ada dalil yang menetapkan batalnya. Asy-Syaukani berkata dalam An-Nail,

“Tidak ada satu pun dalil yang bisa dijadikan hujjah, yang mewajibkan wudhu bagi wanita yang mengalami istihadhah.”

Di antara dalil lemah tersebut adalah hadits Aisyah tentang sabda Nabi kepada seorang sahabiah yang terkena istihadhah, “Kemudian berwudhulah kamu setiap kali mau shalat.” Hadits ini adalah hadits yang syadz lagi lemah, dilemahkan oleh Imam Muslim, An-Nasai, Al-Baihaqi, Ibnu Abdil Barr dan selainnya.
[Lihat Al-Fath: 1/409, As-Sail: 1/149 dan As-Subul: 1/99]

3. Menyentuh kemaluan.

Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- pernah ditanya oleh seseorang yang menyentuh kemaluannya, apakah dia wajib berwudhu? Maka beliau menjawab,

“Tidak, itu hanyalah bagian dari anggota tubuhmu.” (HR. Imam Lima dari Thalq bin Ali)

Maka hadits ini menunjukkan bahwa menyentuh kemaluan tidaklah membatalkan wudhu.
Tapi di sisi lain beliau -shallallahu alaihi wasallam- juga pernah bersabda,

“Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya maka hendaknya dia berwudhu.” (HR. Imam Lima dari Busrah bintu Shafwan) Dan ini adalah nash tegas yang menunjukkan batalnya wudhu dengan menyentuh kemaluan.

Pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiah dan Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin adalah pendapat yang memadukan kedua hadits ini dengan menyatakan: Menyentuh kemaluan tidaklah membatalkan wudhu akan tetapi disunnahkan -tidak diwajibkan- bagi orang yang menyentuh kemaluannya untuk berwudhu kembali.

Jadi perintah yang terdapat dalam hadits Busrah bukanlah bermakna wajib tapi hanya menunjukkan hukum sunnah, dengan dalil Nabi -shallallahu alaihi wasallam- tidak mewajibkan wudhu padanya -sebagaimana dalam hadits Thalq-. Wallahu a’lam bishshawab.
[Lihat Al-Ausath: 1/193, A-Mughni: 1/180, An-Nail: 1/301, Asy-Syarh Al-Mumti’: 1/ 278-284 dan As-Subul: 1/149]

4. Bersentuhan dengan wanita.

Menyentuh wanita -yang mahram maupun yang bukan- tidaklah membatalkan wudhu, berdasarkan hadits Aisyah dia berkata,

“Sesungguhnya Nabi -shallallahu alaihi wasallam- pernah mencium sebagian istrinya kemudian beliau keluar mengerjakan shalat dan beliau tidak berwudhu lagi.” (HR. Ahmad, An-Nasai, At-Tirmizi dan Ibnu Majah)

Ini adalah pendapat Daud Azh-Zhahiri dan mayoritas ulama muhaqqiqin, seperti: Ibnu Jarir Ath-Thabari, Syaikhul Islam Ibnu Taimiah, Ibnu Katsir, dan dari kalangan muta`akhkhirin: Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin, Asy-Syaikh Muqbil dan selainnya.
Adapun sebagian ulama yang berdalilkan dengan firman Allah Ta’ala,

“Atau kalian menyentuh wanita …,” (QS. Al-Maidah: 6)

bahwa menyentuh wanita adalah membatalkan wudhu.
Maka bisa dijawab dengan dikatakan bahwa kata ‘menyentuh’ dalam ayat ini bukanlah ‘menyentuh’ secara umum, akan tetapi dia adalah ‘menyentuh’ yang sifatnya khusus, yaitu jima’ (hubungan intim).
Demikianlah Ibnu Abbas dan Ali bin Abi Thalib -radhiallahu anhuma- menafsirkan bahwa ‘menyentuh’ di sini adalah bermakna jima’. Hal ini sama seperti pada firman Allah Ta’ala tentang ucapan Maryam,

“Bagaimana mungkin saya akan mempunyai seorang anak sementara saya belum pernah disentuh oleh seorang manusia pun dan saya bukanlah seorang pezina.” (QS. Maryam: 20)

Dan kata ‘disentuh’ di sini tentu saja bermakna jima’ sebagaimana yang bisa dipahami dengan jelas.
Ini juga diperkuat oleh hadits Aisyah riwayat Al-Bukhari dan Muslim bahwa dia pernah tidur terlentang di depan Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- yang sedang shalat.
Ketika beliau akan sujud, beliau menyentuh kaki Aisyah agar dia menarik kakinya. Seandainya menyentuh wanita membatalkan wudhu, niscaya beliau -shallallahu alaihi wasallam- akan membatalkan shalatnya ketika menyentuh Aisyah.
[Lihat An-Nail: 1/195, Fathu Al-Qadir: 1/558, Al-Muhalla: 1/244, Al-Ausath: 1/113 dan Asy-Syarh Al-Mumti’: 1/286-291]

Catatan:

Menyentuh wanita -baik yang mahram maupun yang bukan- tidaklah membatalkan wudhu, hanya saja ini bukan berarti boleh menyentuh wanita yang bukan mahram. Karena telah shahih dari Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bahwa beliau bersabda,

“Seseorang di antara kalian betul-betul ditusukkan jarum besi dari atas kepalanya -dalam sebagian riwayat: Sampai tembus ke tulangnya-, maka itu lebih baik bagi dirinya daripada dia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Ath-Thabarani dari Ma’qil bin Yasar)

5. Mimisan dan muntah, baik memuntahkan sesuatu yang sudah ada di dalam perut atau yang masih berada di tenggorokan.

Semua ini bukanlah pembatal wudhu karena tidak adanya dalil shahih yang menunjukkan hal tersebut, karenanya kita kembali ke hukum asal yang telah kami sebutkan sebelumnya. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Hazm dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiah -rahimahumallah-.
Adapun hadits,
“Barangsiapa yang muntah (dari perut) atau mimisan atau muntah (dari tenggorokan) atau mengeluarkan madzi maka hendaknya dia pergi dan berwudhu.” (HR. Ibnu Majah dari Aisyah)
maka ini adalah hadits yang lemah. Imam Ahmad dan Al-Baihaqi telah melemahkan hadits ini, karena di dalam sanadnya ada Ismail bin Ayyasy dan dia adalah rawi yang lemah.

6. Mengangkat dan memandikan jenazah.

Ada beberapa hadits dalam permasalahan ini, di antaranya adalah hadits Abu Hurairah secara marfu’, “Barangsiapa yang memandikan mayit maka hendaknya dia juga mandi, dan barangsiapa yang mengangkatnya maka hendaknya dia berwudhu.” (HR. Ahmad, An-Nasai dan At-Tirmizi)
Akan tetapi hadits ini telah dilemahkan oleh Imam Az-Zuhri, Abu Hatim, Ahmad, Ali bin Al-Madini dan Al-Bukhari. Adapun hadits-hadits lainnya, maka kami sendiri pernah mentakhrij jalan-jalannya dan kami menemukannya sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad -rahimahullah-, “Tidak ada satu pun hadits shahih yang ada dalam permasalahan ini.”

vi.Keslahan-kesalahan dalam berwudhu


Wudhu memiliki kedudukan yang penting dalam agama kita. Tidak sahnya wudhu seseorang dapat menyebabkan sholat yang ia kerjakan menjadi tidak sah, sedangkan sholat adalah salah satu rukun Islam yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Oleh karena itu merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim untuk memperhatikan bagaimana dia berwudhu. Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak diterima sholat yang dilakukan tanpa wudhu dan tidak diterima shodaqoh yang berasal dari harta yang didapat secara tidak halal.” (HR. Muslim)

Kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan oleh kaum muslimin pada tata cara berwudhu diantaranya:

1. Melafazhkan niat.

Kebiasaan salah yang sering dilakukan kaum muslimin ini bukan hanya dalam masalah wudhu saja, bahkan dalam berbagai macam ibadah. Rosululloh tidak pernah melafazhkan niat ketika berwudhu sedangkan orang yang mengamalkan perkara ibadah yang tidak pernah ada contohnya dari Rosululloh maka amalan itu tertolak (Lihat hadits Arba’in Nawawiyah no. 5) dan bahkan akan mendatangkan murka Alloh. Patokan dalam tata cara ibadah adalah mengikuti Rosululloh, bukan akal pikiran atau perasaaan kita sendiri yang akan menjadi hakim mana yang baik dan mana yang buruk. Andaikan itu adalah hal yang baik, mengapa Rosululloh tidak mengajarkannya atau tidak melakukannya? Apa mereka merasa lebih pintar, lebih sholih, lebih bertaqwa, lebih berilmu daripada Rosululloh? Apakah mereka merasa bahwa Rosululloh bodoh terhadap hal-hal yang baik sampai mereka berkarya sendiri? Maka siapakah yang kalian ikuti dalam ibadah ini wahai para pelafazh niat…???

2. Membaca doa-doa khusus dalam setiap gerakan wudhu seperti doa membasuh muka, do’a membasuh kepala dan lain-lain.

Tidak ada riwayat shohih yang menjelaskan tentang hal tersebut.

3. Tidak membaca “bismillah”

padahal Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak sempurna wudhu’ sesorang yang tidak membaca basmallah.” (HR. Ahmad)

4. Hanya berkumur tanpa istinsyaq (memasukkan air ke hidung)

padahal keduanya termasuk dalam membasuh wajah. Adapun yang sesuai sunnah adalah menyatukan antara berkumur-kumur dangan beristinsyaq dengan satu kali cidukan berdasarkan hadits Utsman bin Affan rodhiyallohu ‘anhu tentang tata cara berwudhu. (HR. Bukhari, Muslim)

5. Tidak membasuh kedua tangan sampai siku,

hal ini sering kita lihat pada orang yang berwudhu cepat bagaikan kilat sehingga tidak memperhatikan bahwa sikunya tidak terbasuh. Padahal Alloh Ta’ala berfirman,

“Dan basuhlah kedua tanganmu hingga kedua siku.” (Al Maaidah: 6)

6. Memisah antara membasuh kepala dengan membasuh telinga

padahal yang benar adalah membasuh kepala dan telinga dalam satu kali ciduk. Dan ini hanya dilakukan satu kali, bukan tiga kali seperti pada bagian lain, hal ini berdasarkan hadits dari Utsman bin Affan rodhiyallohu ‘anhu tentang tata cara berwudhu. (HR. Bukhari, Muslim)

7. Tidak memperhatikan kebagusan wudhunya sehingga terkadang ada anggota wudhunya yang seharusnya terbasuh tetapi belum terkena air.

Rosululloh pernah melihat seorang yang sedang sholat sedangkan pada punggung telapak kakinya ada bagian seluas uang dirham yang belum terkena air, kemudian beliau memerintahkannya untuk mengulang wudhu dan sholatnya.

8. Was-was ketika berwudhu.

Sering kita melihat ketika seseorang berwudhu hingga sampai ke tangannya, dia teringat bahwa lafazh niatnya belum mantap sehingga dia mengulang wudhunya dari awal bahkan kejadian ini terus berulang dalam wudhunya tersebut hingga iqomah dikumandangkan, hal seperti ini adalah was-was dari syaithon yang tidak berdasar. Wallahul musta’an.

Demikianlah sedikit paparan mengenai sekelumit kesalahan dalam berwudhu yang banyak kita jumpai pada kaum Muslimin khususnya di negeri kita ini, semoga bermanfaat dan menjadikan kita lebih memperhatikannya lagi. Wallohu a’lam bish showab.

vii.Sifat wudhu nabi Muhammad saw


Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُواْ بِرُؤُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَينِ
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan shalat, maka cucilah wajah-wajah kalian dan tangan-tangan kalian sampai dengan siku, dan usaplah kepala-kepala kalian dan (cucilah) kaki-kaki kalian sampai pada kedua mata kaki.” (QS. Al-Maidah: 6)

Dari Humran budak Utsman bin Affan dia berkata:
أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ دَعَا بِوَضُوءٍ فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ إِنَائِهِ فَغَسَلَهُمَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ أَدْخَلَ يَمِينَهُ فِي الْوَضُوءِ ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَاسْتَنْثَرَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثَلَاثًا ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ ثُمَّ غَسَلَ كُلَّ رِجْلٍ ثَلَاثًا ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا وَقَالَ مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Bahwa dia melihat Utsman bin Affan minta untuk diambilkan air wudlu. Lalu beliau menuang bejana itu pada kedua tangannya, lalu dia mencuci kedua tangannya tersebut hingga tiga kali. Kemudian beliau memasukkan tangan kanannya ke dalam air wudlunya, kemudian berkumur, menghirup air ke dalam hidung, dan mengeluarkannya. Kemudian beliau mencuci mukanya tiga kali, mencuci kedua tangannya hingga ke siku sebanyak tiga kali. Kemudian beliau mengusap kepalanya lalu mencuci setiap kakinya tiga kali. Setelah itu beliau berkata, “Aku telah melihat Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian dia shalat dua rakaat, dan tidak menyibukkan hatinya dalam kedua rakaat itu, maka Allah akan mengampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari no. 164 dan Muslim no. 226)

Dari Abdullah bin Zaid ketika beliau memperagakan sifat wudhunya Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-:

فَأَكْفَأَ عَلَى يَدِهِ مِنْ التَّوْرِ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ثَلَاثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فِي التَّوْرِ فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَاسْتَنْثَرَ ثَلَاثَ غَرَفَاتٍ ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا ثُمَّ غَسَلَ يَدَيْهِ مَرَّتَيْنِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَمَسَحَ رَأْسَهُ فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ مَرَّةً وَاحِدَةً ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Dia menuangkan air dari gayung ke telapak tangannya lalu mencucinya tiga kali. Kemudian dia memasukkan tangannya ke dalam gayung, lalu berkumur-kumur, memasukkan air ke hidung, dan mengeluarkannya kembali dengan tiga kali cidukan. Kemudian dia memasukkan tangannya ke dalam gayung, lalu membasuh mukanya tiga kali. Kemudian dia membasuh kedua tangannya dua kali sampai ke siku. Kemudian memasukkan tangannya ke dalam gayung, lalu mengusap kepalanya dengan tangan; mulai dari bagian depan ke belakang dan menariknya kembali sebanyak satu kali. Lalu dia mencuci kedua kakinya hingga mata kaki.” (HR. Al-Bukhari no. 186 dan Muslim no. 235)

Kemudian perlu diketahui bahwa dalam mengetahui sifat wudhu Nabi -alaihishshalatu wassalam-, kebanyakan para ulama bersandarkan pada hadits Utsman bin Affan dan hadits Abdullah bin Zaid yang keduanya adalah riwayat Al-Bukhari dan Muslim. Karena itu ada baiknya kalau kami menyebutkan kedua hadits ini:

A.Hadits Utsman bin Affan

Dari Humran maula Utsman, bahwa dia melihat Utsman meminta air wudhu: Lalu dia menuangkan air dari bejana ke dua telapak tangannya lalu mencuci keduanya sebanyak tiga kali. Kemudian dia memasukkan tangan kanannya ke dalam air wudhu lalu berkumur-kumur, istinsyaq (menghirup air ke hidung) dan istintsar (mengeluarkannya). Kemudian dia mencuci wajahnya tiga kali lalu kedua tangan sampai ke siku sebanyak tiga kali. Kemudian dia mengusap kepalanya lalu mencuci kedua kakinya sebanyak tiga kali. Kemudian setelah selesai dia (Utsman) berkata, “Saya melihat Nabi -alaihishshalatu wassalam- berwudhu seperti yang saya lakukan ini.”

B.Hadits Abdullah bin Zaid

Dimana beliau juga memperagakan sifat wudhu Nabi.
Dia meminta baskom berisi air lalu menuangkan air ke dua telapak tangannya dan mencuci keduanya sebanyak tiga kali. Kemudian dia memasukkan tangannya kedalam baskom lalu berkumur-kumur, istinsyaq dan istintsar sebanyak tiga kali dari tiga kali mengambil air. Kemudian dia mengambil air lalu mencuci wajahnya sebanyak tiga kali. Kemudian dia mengambil air lalu mencuci tangan sampai sikunya sebanyak dua kali. Kemudian dia mengambil air lalu mengusap kepalanya -ke belakang dan ke depan- sebanyak satu kali. Kemudian dia mencuci kedua kakinya.
Dalam sebagian riwayat:
Beliau memulai mengusap pada bagian depan kepalanya kemudian mendorong kedua tangannya sampai ke tengkuknya, kemudian kedua tangannya kembali ke bagian depan kepalanya.

============================
Sumber:
1.http://al-atsariyyah.com/di-antara-sunnah-wudhu.html
2.http://al-atsariyyah.com/sifat-wudhu-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam.html
3.http://al-atsariyyah.com/pembatal-wudhu.html
4.http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/panduan-praktis-tata-cara-wudhu.html
5.http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/pembatal-pembatal-wudhu.html
6.http://www.almanhaj.or.id/content/1535/slash/0


Wallahu a’lam
(artinya: “Dan Allah lebih tahu atau Yang Maha tahu atau Maha Mengetahui)
“Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa Anta astaghfiruka wa atubu ilaik (Maha Suci Engkau ya Allah dan segala puji untuk-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Engkau, saya meminta ampunan dan bertaubat kepada-Mu).”

*** Hutang ***



Ruh seorang Mukmin itu tergantung kepada utangnya hingga di bayarkan utangnya (HR. Ahmad ,at-tirmidzi).

Sesungguhnya ,apabila seseorang terlilit hutang, maka bila berbicara Ia berdusta dan bila berjanji Ia akan pungkiri. (HR. Bukhari ,Muslim).

Dari Muhammad bin Jahsy r.a ia berkata : "pada suatu hari , kami duduk-duduk bersama Rasulallah SAW. Sedang menguburkan jenazah. Beliau menengadahkan kepalanya ke langit kemudian menepukkan dahi beliau dengan telapak tangan seraya bersabda, "Subhanallah , betapa beratnya ancaman yang di turunkan" , kami diam saja namun sesungguhnya kami terkejut , keesokan harinya aku bertanya kepada beliau ,"Wahai Rasulallah ! Ancaman berat apakah yang turun.? " Beliau menjawab , Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya , seandainya seorang laki-laki terbunuh fii sabilillah kemudian di hidupkan kembali ,kemudian di bunuh kemudian di hidupkan kembali kemudian terbunuh sementara ia mempunyai utang, maka Ia tidak akan masuk surga hingga ia melunasi utangny." (HR. An-Nasai Ahmad).

"Orang yang mati syahid di ampuni seluruh dosa nya , kecuali utang" .(HR Muslim).

Apabila ruh telah terpisah dari jasad (meninggal dunia) ,sedang ia terbebas dari tiga perkara:
Kesombongan , Ghulul(korupsi) , dan utang niscahya ia masuk surga." ( At-Tirmidzi , Ibnu Majah , Ahmad , Al-Hakim).

Dan jika (orang berutang) itu dalam kesulitan ,maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan , dan jika kamu menyedekahkan ,itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah :280)

Barang siapa memberi tempo waktu kepada orang yang berutang yang mengalami kesulitan membayar utang , maka ia mendapat sedekah pada setiap hari sebelum tiba waktu pembayaran. Jika waktu pembayaran telah tiba kemudian ia memberi tempo lagi setelah itu kepadanya. Maka ia mendapat sedekah pada setiap hari semisalnya." (HR. Ibnu Majah ,Ahmad ,Al-Hakim)

Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang tidak pernah mengamalkan kebaikan sebelumnya. Dia adalah seorang yang sering memberi utang kepada manusia , lalu ia berkata kepada utusannya , Ambillah (tagihan) orang yang mudah , biarkanlah orang yang susah dan maafkanlah (bebaskan lah dari utangnya) , mudah-mudahan Allah memaafkan kita . Maka tatkala orang itu telah meninggal dunia .Allah Ta'ala berfirman kepadanya : "Apakah engkau pernah mengamalkan kebaikan mesti sedikit .?" ia menjawab, "tidak kecuali bahwa aku dahulu mempunyai hamba sahaya ,dan dahulu aku selalu memberikan utang kepada manusia . Jika aku mengutusnya (hamba sahaya ku)untuk menagih utang, aku berkata kepadanya , Ambillah (tagihlah)orang yang mudah , biarkanlah orang yang susah, dan maafkanlah , mudah-mudahan Allah memaafkan kita ."
Allah Ta'ala berfirman ,"Sungguh aku telah memaafkan kamu ". (HR. An-Nasa'i, Ibnu Hibban , Al-Hakim).

KHASIAT BUAH TIN DAN ZAITUN DALAM AL-QUR'AN




وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ

    (Demi Tin dan Zaitun)

    Oleh: Med HATTA


Pesan Bukunya Sekarang!
Tema ini diambil dari nama surah ke-095 dari al-Qur'an, yang juga merupakan ayat pertama dari surah tersebut, yaitu tentang buah tin dan buah zaitun. Allah SWT bersumbah demi tin dan zaitun karena kemulian dan keagungan kedua buah surgawi itu, seperti yang akan diuraikan dalam tulisan sederhana ini,  yang disadur dari buku ke-2 penulis: "Mukjizat Pengobatan Herbal dalam al-Quran", sebagai berikut:

        PERTAMA: BUAH TIN

Untuk mengungkap rahasia sumpah Allah tentang buah surgawi yang penuh berkah ini, author akan memulai kajian dari beberapa hal pokok seperti dibawah ini:

    *
      Menjelaskan fakta sains buah tin dari jenis (Carica Ficus), yaitu jenis buah yang dimaksudkan ayat sumpah pada surah at-Tin diatas, menurut pakar tafsir kontemporer. Di Maroko dan negara-negara Afrika Utara lainnya, buah ini dikenal dengan sebutkan “karmouss” dan karena keberadaanya yang banyak tersebar di pesisir Laut Tengah, maka buah ini banyak sekali disebutkan dalam literatur-literatur sejarah kuno dan sebagaimana juga disebutkan pada kitab-kitab samawi.

      Buah ini dikenal luas semenjak dahulu kala dengan mamfaat dan kegunaannya yang banyak untuk kepentingan medis bagi manusia. Sebagaimana fakta sains modern menjelaskan bahwa cairan tin yang dicampurkan pada banyak ramuan-ramuan medical memiliki kemanjuran tinggi. Oleh karena itu nabi Muhammad SAW mengomentari buah ini dalam salah satu Sabda-Nya: “Jika Aku mengatakan ada buah yang turun dari langit, maka buah inilah (menunjukkan buah tin)….”

    *
      Menonjolkan peranan utama lebah tin yang dikenal dengan Blastophaga psenes, yang bertanggung jawab terhadap pembuahan jenis tin ini, dimana secara natural tumbuhan ini tidak dapat dibuahi kecuali melalui jenis lebah khusus tersebut, sebagaimana juga lebah terakhir ini tidak dapat melahirkan dan berkembang biak kecuali harus berada di dalam buah tin.

      Pada kajian ini author akan berusaha mengkomfirmasikan antara fakta sains modern yang berdasarkan dari hasil riset-riset ilmia dengan fasilitas media dan tekneknologi canggih, dan dengan kajian imania yang kokoh, sambil memperhatikan proses pertumbuhan buah tin dan struktur yang prima bunga-bunga buah ini, serta hubungannya dengan Blastophaga psenes tadi, yaitu lebah yang berperan aktif dalam proses pembuahan buah tersebut.

      Dengan harapan, Insya Allah, dapat mendekatkan kita dalam memahami rahasia sumpah Allah pada ayat di atas, yang juga merupakan isyarat rabbania pada keagungan makhluk tumbuhan ini. Sekaligus mengkomfirmasikan atas anugerah besar yang terdapat pada buah surgawi ini, serta perumpamaan dan mamfaat-mamfaat dari makhluk Allah SWT yang maha dahsyat.

      Adapun kata-kata kunci yang author terapkan dalam memahami ayat yang mulia ini adalah: (Sumpah – tin – lebah pembuah – jantan – betina (keramat).

    Empat Fakta Sains Buah Tin:

Pertama, Buah tin merupakan golongan tumbuhan berasal dari jenis Ficus:

Adalah dari keluarga Tut Moraceae yang namanya diambil dari tut putih alba Morus, yang terakhir ini merupakan simbol dari keluarga tersebut.

Jika di bandingkan antara buah tut dan tin seperti pada gambar di atas, maka nampak yang pertama berbentuk tin yang terbalik bunga-bunganya sebagaimana terlihat pada stand bunga, berbeda dengan tin yang bunga-bunganya terdapat dalam bungkusan, dan tidak bertemu di luar kecuali melalui pembuka diatas bungkusan, semua tergolong jenis buah. (Lihat: Gambar perbandingan antara buah tut dan tin di atas ini).

Menurut ahli Biologi pohon tin dari jenis Ficus terdapat 700 jenis, tersebar diseluruh pelosok dunia, umumnya paling banyak dikenal masyarakat luas adalah diantaranya jenis yang dipergunakan untuk decorasi rumah, apartemen dan koridor-koridor building seperti jenis Benjamina Ficus. Dan jenis untuk menghias taman-taman seperti Ficus macrophylla. Ada juga jenis lain untuk penghias jalan dan trotoir seperti Ficus microcarpa yang banyak terdapat di Afrika Utara dan Timur Tengah.

Jenis tin yang akan kita kaji disini adalah jenis Ficus carica, yang dikenal dalam darijah Marocain (Maroko) dan masyarakat Afrika Utara dengan “karmouss” yang masih segarnya dan "chereha" yang sudah dikeringkan, tumbuh banyak di daerah Laut Tengah dimana merupakan daerah asal pohon tin tersebut.

Fakta Kedua, Tentang Biologis Tin dan Beberapa Keistimewaannya:

   1. Buah Tin: Adalah ibarat sebuah bungkusan yang didalamnya terdapat ratusan bunga-bunga tersebar diatas stand bunga, terbagi kepada dua macam (Lihat: Buah Tin Ibarat Bungkusan): Gambar pertama, bunga jantan terdapat pada bagian dekat mulut bungkusan, berperan secara umum dalam proses pembuahan. Dan gambar kedua, bunga-bunga betina tersebar pada bagian moncong yang berperan mensuplai ransum makanan dan mengontrol perkembangan binatang-binatang, atau menproduksi buah setelah terjadi proses pembuahan.
   2. Pohon Tin Jantan dan Betina: Sebagai fungsi utamanya mengontrol buah matang yang tumbuh dari pohon tin, dapat diklasifikasikan pohon ini kepada dua jenis: Pohon jantan Cnaprifiguier, merupakan tempat indo kos lebah-lebah pembuah, dan buah dari pohon ini digunakan untuk reproduksi dan berkembang biak bagi lebah-lebah tersebut, serta buahnya tidak bisa dimakan manusia. Dan jenis Pohon betina Figuier Domestique, yang menampung lebah-lebah yang membawa benih pembuahan pada bunga-bunga tin betina, dan menghasilkan buah tin yang matang dan lezat dimakan.
   3. Tin dan Lebah Khusus Membuahinya: Lebah Blastophaga psenes dari keluarga Agonidae memainkan peranan sangat penting pada proses pembuahan tin Ficus carica, karena jenis tin ini tidak dapat dibuahi kecuali melalui lebah khusus itu. Dan sebagaimana lebah jenis ini tidak bisa melahirkan dan berkembang biak kecuali di dalam jenis buah tin tersebut.

Fakta Ketiga, Tin dan Periode Pembentukan Buahnya:

    * Pohon Tin Jantan Caprifiguier, berperan penting pada perkembangan jenis tin, merupakan penampungan lebah-lebah. Silih berganti di atas dahan pohon ini pada tiga generasi buah tin. Ketiga generasi itu adalah: (Mamme, Profichi dan Mammoni). Diantaranya ada dua generasi yaitu Mammoni dan Mamme) merupakan tempat pertumbuhan lebah dan mempertahankan kelanjutan jenisnya, lebah penghuni dua generasi buah tin ini tidak memainkan peranan dalam proses pembuahan bunga-bunga tin. Adapun generasi yang ketiga yaitu disebut dengan Tin Profichi, inilah yang berperan memindahkan benih buah ke bunga-bunga tin betina. Dan bunga-bunga betina ini menyuplai makanan bagi lebah-lebah, Tin Mamme bertanggung jawab memelihara kelangsungan kehidupan bagi lebah-lebah tersebut, SubhanalLah...
    * Pohon Tin Betina: Pohon ini juga memiliki tiga generasi seperti di atas (Mamme, Mammoni dan Profichi), dan tin Mammoni betina merupakan generasi yang menerima lebah-lebah pembuah yang datang dari tin Profichi jantan serta membentuknya menjadi buah yang matang dan siap di konsumsi manusia.

Fakta Keempat, Tin dan Proses Penyebarannya:
Selain dengan cara pembibitan yang dilakukan oleh petani dan menyebarkan ke perkebunan-perkebunan serta lahan-lahan hijau, ada juga andil binatang-binatang tertentu seperti burung-burung dan binatang-binatang mamalia jenis kecil menyebarkan tin ini ke daerah-daerah tertentu….

    Fakta Imania (Tinjauan Pakar Tafsir):

Allah SWT menyebutkan beberapa jenis buah dan tumbuh-tumbuhan di dalam al-Qur’an, menyebutkan buah tin sekali saja pada surah at-Tin. Surah terakhir ini merupakan surah satu-satunya mengambil judul nama tumbuhan, berbeda dengan surah yang bertema binatang yang banyak menjadi judul surah-surah al-Qur’an seperti: (Al-Baqarah = Sapi betina, an-Naml = semut, an-Nahl = lebah, al-'Ankabuut = laba-laba dan al-Fiil = gajah).

Buah tin disebutkan pada surah yang mengatasnamakan dirinya sendiri dan dalam bentuk sumpah pula, maka kami merasa perlu memberikan perhatian khusus dalam kajian ini. Ahli tafsir sendiri dalam mengomentari kasus ini berbeda pendapat menafsirkan buah yang disumpahkan itu, sebagian berpendapat bahwa yang dimaksud adalah buah tin itu sendiri yang dapat dimakan oleh manusia. Ada pula menafsirkan tin sebagai tempat-tempat tertentu seperti: gunung, mesjid atau kota.

Perbedaan pendapat pakar tafsir, antara tin sebagai buah dan tin sebagai tempat, mengundang banyak spekulasi dan menyikapinya pun harus kembali kepada besik perkara yaitu perbedaan mereka antara tafsir dan ta’wil. Sebagai diketahui bahwa kata tafsir hanya disebutkan sekali saja pada surah al-Furqan, sedangkan ta’wil disebutkan pada tiga surah yaitu (al-A’raf, al-Kahfi dan Yunus).

Penulis disini tidak bermaksud berpanjang lebar membahas perbedaan antara tafsir dan ta’wil, karena membutuhkan pembahasan khusus dan sangat panjang. Sebagai isyarat saja bahwa tafsir menyangkut riwayat biasanya mendifinisikan lafadz dan Kalimat-kalimat saja, sedangkan ta’wil lebih focus ke dirayah yang mengutamakan arti secara umum dan paragraph.

Jika kita merujuk pada metode riwayat, maka ditafsirkan tin sebagai buah yang dapat dimakan dan dikenal luas semenjak dahulu kala. Tetapi jika diartikan dengan tempat, maka masuk kita masuk keranah  ta’wil yang menyangkut dirayah, dimana setiap orang bisa mena’wilkan sesuai dengan pemahaman dan tingkat keilmuannya.

Lihat misalnya tafsir Ibn Katsir tentang surah at-Tin, tampak jelas sebahagian ahli tafsir mengomentari tiga sumpah yang ada: (Sumpah tentang Tin dan zaitun, sumpah tentang Thuur Sinai, sumpah tentang Kota yang aman/ kita ada kajian khusus kasus-kasus tersebut, Lihat: diblog ini), dan mengaitkannya satu sama lain. Menurut pemahaman mereka behwa Allah bersumpah demi tiga tempat, setiap tempat tersebut diutuskan-Nya nabi dan rasul pembawa syariat: Pertama, Tin dan Zitun: yaitu “Bait al-Maqdis”, tempat diutusnya nabi Isa as. Kedua, Thuur Sinai: yaitu sebuah gunung dimana nabi Musa as berdialog langsung dengan Allah SWT, yaitu tempat diutusnya nabi Musa as. Dan tempat ketiga adalah "Kota yang aman", yaitu kota Makkah dimana nabi Muhammad SAW diutus.

Sedangkan di dalam tafsir Siyyid Quthub, lebih banyak merekap pendapat-pendapat ahli tafsir terdahulu, diantaranya ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud ayat sumpah adalah pohon tin yang daun-daunnya dipakai nabi Adam dan isterinya Hawa menutupi tubuhnya setelah dilucuti pakaiannya di Surga tempatnya sebelum turun ke dunia fana ini. Dan pendapat lain mengatakan bahwa tempat tumbuhnya pohon tin di sebuah gunung dimana perahu nabi Nuh as terdampar setelah banjir besar dunia.

Diatas hanya sekelimit kecil saja yang dapat kami sajikan dari pendapat-pendapat ahli tafsir terdahulu, yang pada umumnya memahami ayat sumpah “wat-Tin” sebagai tempat tertentu. Sebagaimana juga ayat sumpah “wat-Tin” ini dapat tafsirkan sebagai jenis buah yang agung, rahasianya pada proses pembentukannya telah kita lihat pada kajian Fakta sains diatas, disamping juga memeliki keampuhan-keampuhan medis yang ganda.

Dikuatkan pula hadits nabi diriwayatkan oleh Abu Dardaa, bahwasanya telah dihidungkan kepada nabi sebuah menu dari buah tin, maka nabi mengajak shahabat-shahabatnya menyantapnya bersama, beliau lalu bersabda: “Jika Aku mengatakan ada buah turun dari surga, maka buah inilah...”

Ibn Alqayyim dalam bukunya “ath-Thib Annabawi” mengomentari riwayat hadits diatas: "Menguji kemanjuran pengobatan nabi sebagai tersebut dalam hadits ini, dapat dirilis beberapa teori. Pada jaman dahulu kala buah tin telah banyak dipakai untuk kepentingan medis, tokoh-tokoh kedokteran periode awal juga seperti Ibn Sina telah banyak mengetahui buah tin mempunyai banyak faedah medis..." Dan pengobatan traditional pada dekade terakhir ini juga mengenal kemujaraban tin, dimana dianggap secara medis menyembuhkan berbagai penyakit seperti mengobati luka-luka, borok, flu burung, mag, gangguan sirkulasi mensturasi dan luka bakar.


Mengingat karena kadar kandungan gulanya tinggi, buah tin - kering – bagus dikonsumsi oleh anak-anak, orang diet dan olah-ragawan, tetapi hendaknya dihindari oleh penderita gula tinggi dan kolestrol. Buah tin juga kaya dengan vitamin A dan B serta kadar tertentu dari vitamin C. Dan mengandung garam pokok seperti: Kalsium, fosfor, zat besi yang membangun pertumbuhan badan dan pembangkit tekanan darah.

Dari keterangan diatas menegaskan bahwa tin merupakan buah yang sangat dahsyat, memeliki kegunaan medis yang sangat banyak. Menurut Ibn al-Qayyim al-Jouzi lagi bahwa: "Mengingat tin tidak terdapat didaratan Hijaz dan kota Madinah, serta langkah penyebutannya dalam sunnah, karena lahan tin memang tidak serasi dengan lahan kurma. Akan tetapi, Allah Bersumpah di dalam al-Qur’an demi tin karena manfaat dan kegunaannya yang sangat banyak itu..." Maka Ibn al-Qayyim berkesimpulan bahwa yang dimaksud ayat sumpah adalah buah tin yang telah dikenal luas itu.

Ini masih berkisar pada buah tin saja, tanpa bermaksud melewati buah zaitun yang terdapat pada ayat sumpah yang sama, karena akan ada kajian khusus tentang zaitun setelah ini, sekarang masih fokus pada tin.

    Tin dan Peranan Waktu dalam Pembentukan Buahnya:

Allah SWT telah menciptakan waktu dan mengaitkannya dengan system alam raya ini, serta bersumpah demi waktu pada ayat ke-1 surah al-Ashar:

    Artinya: “Demi masa, sesungguhnya manusia senantiasa merugi….”.

Ini suatu indikasi penting betapa waktu merupakan tanda dan warning atas Kekuasaan dan Hikmah Allah SWT. Sebagaimana tin merupakan salah satu makhluk tumbuhan yang juga mencerminkan rekayasa Sang Pencipta, maka waktu sangat berperan dalam proses pertumbuhan tin.

Setelah musim dingin yang merupakan periode penting perkembangan lebah tin jenis mamme jantan, tiba musim gugur atau persisnya bulan Mei giliran lebah memasuki tin Profichi jantan, bertepatan pula sebelum mekarnya bunga-bunga betina dan jantan Protandrie agar lebah melepaskan telornya pada kandungan bunga-bunga betina yang dimaksudkan sebagai ransum makanan.

Waktu yang dipergunakan mencapai lebah sempurna hingga dapat keluar dari tempat telor bertepatan dengan matangnya benih yang terdapat pada bunga-bunga jantan. Keluarnya lebah-lebah tersebut dari Profichi jantan membawa benih memaksakannya – dalam tempo terbatas - mencari buah tin jenis Mammoni betina yang sangat membutuhkannya atau bunga-bunganya sedang mekar.

Ketika lebah-lebah tersebut telah memasuki buah jenis terakhir ini dengan maksud meletakkan telornya dalam tempo yang sangat terbatas dan tempat yang pas demi mengamankan makanannya, maka saat yang bersamaan bunga-bunga Mammoni betina membutuhkan bahan tersebut. Kemudian setelah selesai semua proses ini, terbentuklah sejumlah besar dari kandungan buah yang seterusnya menjadi matang pada saat tertentu. Mungkinkah ini hanya kebetulan saja…?

    Tin dan Lebah Pembuah:

Amat jelas dari kajian ini bahwa lebah tin yang mencari tempat pengamanan tepat menyimpan makanan untuk pertumbuhan telornya dan juga untuk memelihara kelangsungan hidup jenisnya, dia meletakkan telornya dengan teknik yang tepat disamping telor bunga untuk keperluan terakhir ini yang khusus memerlukan makanan pada saat dibuahinya dan mencari protein terdapat pada telor bunga yang membantu atas perkembangan telor-telor tersebut.

Dapat dipastikan bahwa yang mengamati karakter lebah-lebah ini yang mencari tempat yang tepat meletakkan telornya, lebih khusus ketika masuknya ke tin betina, akan berdecak kagum dan membuatnya bertanya-tanya: Kenapa lebah tin senantiasa berusaha mengulang perbuatan yang sama dengan yang telah dilakukan oleh induknya masuk ke tin Profichi jantan, padahal tidak pernah menyaksikan induknya…?

Jawabnya sederhana saja, lebah yang sangat kecil ini, umurnya hanya berbilang hari saja dan tidak punya nalar dan ilmu, diciptakan oleh Allah SWT dan memberinya insting, serta mengarahkannya kepada apa yang wajib dilakukan demi kelestariaanya. Sungguh benar Allah dalam Firman-Nya:

    Artinya: “Sucikanlah nama Tuhan-mu Yang Maha Tinggi, yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan -Nya, dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk” (QS: 87: 1-3).

 Allah yang menciptakan lebah-lebah ini, telah menciptakan alam raya, menyempurnakan segala sesuatu dan menentukan kadar setiap sesuatu serta mengarahkannya berjalan sesuai system berlaku.


Dan kenapa pula lebah ini memaksakan diri masuk kedalam tin betina padahal akan menghilangkan kedua sayapnya dan sebagian anggota badannya, serta sudah pasti tidak akan sukses meraih apa yang diinginkannya…?

Menurut Fakta ilmia diperoleh bahwa lebah ini semenjak dari dahulu kala - betapapun usahanya - selalu gagal dalam missinya meletakkan telornya dalam bunga-bunga tin betina. Akan tetapi tanpa disadarinya dan diluar kehendaknya telah memindahkan benih diatas bunga-bunga tin untuk pembuahan yang terakhir ini dan berandil dalam pematangan buah tin.

Kesimpulan yang dapat di ambil dari kenyataan ini bahwa lebah-lebah yang berada dalam tin jantan sukses meletakkan telornya selanjutnya berhasil memelihara kelestarian keturunannya, adapun yang berada dalam tin betina Allah-lah yang mengatur lebah-lebah ini untuk memperoleh buah tin yang disumpahkan tersebut, selanjutnya menundukkan kepada manusia, sebagaimana firman Allah:

    Artinya: “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan menyempurnakan untukmu ni’mat-NYA lahir dan batin. Dan diantara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan” (QS: 31: 20).

    Kegunaan Dan Kandungan Nutrisi Pohon Tin:

Buah tin dapat dimakan segar, dikeringkan, atau dibuat selai. Buah yang dipetik harus segera dimanfaatkan karena tidak dapat disimpan lama (mudah rusak). Di Bengali buah tin diolah sebagai sayuran. Adapun kandungannya per 100 gram, yaitu:

   1. Nutritional value per 100 g (3.5 oz)
   2. Energy 250 kcal 1040 kJ
   3. Carbohydrates 63.87 g
   4. Sugars 47.92 g
   5. Dietary fiber 9.8 g
   6. Fat 0.93 g
   7. Protein 3.30 g
   8. Thiamine (Vit. B1) 0.085 mg 7%
   9. Riboflavin (Vit. B2) 0.082 mg 5%
  10. Niacin (Vit. B3) 0.619 mg 4%
  11. Pantothenic acid (B5) 0.434 mg 9%
  12. Vitamin B6 0.106 mg 8%
  13. Folate (Vit. B9) 9 μg 2%
  14. Vitamin C 1.2 mg 2%
  15. Calcium 162 mg 16%
  16. Iron 2.03 mg 16%
  17. Magnesium 68 mg 18%
  18. Phosphorus 67 mg 10%
  19. Potassium 680 mg 14%
  20. Zinc 0.55 mg 6%

    Pohon Tin Dan Khasiat Herbal Natural:

Sebuah riwayat dari Abu Dardaa, bahwasanya telah dihidangkan kepada nabi SAW sebuah menu dari buah tin, maka nabi mengajak sahabat-sahabatnya menyantap bersama, beliau lalu bersabda: “Jika Aku mengatakan buah turun dari surga, maka buah ini-lah...”

Menurut Imam Ibnu al-Jawziyyah, Buah Tin memiliki banyak khasiat, diantaranya dapat mengurangi penyakit sesak nafas, membersihkan hati dan limpa juga pengencer dahak serta memberi khasiat yang baik pada tubuh, sebagai langkah pencegahan untuk melawan racun di tubuh kita.

Oliver Alabaster mengatakan, jika anda mengambil Buah Tin, maka sebenarnya anda telah mengambil makanan yang menjamin kesehatan anda dalam jangka panjang.

Buah Tin adalah "Nature's most nearly perfect fruit", yaitu buah yang hampir mencapai tahap kesempurnaan secara keseluruhan.
Buah tin telah dianggap oleh pakar-pakar makanan - saat ini - sebagai makanan Nutraseutikal (functional food), karena Buah Tin bukan sekedar mengandung zat-zat yang berkhasiat, bahkan lebih dari itu dan bermanfaat sebagai penjaga tubuh dan mampu mencegah serangan penyakit-penyakit tertentu.

Pohon tin merupakan salah satu tumbuhkan herbal tertinggi akan sumber kalsium dan serat.

Menurut USDA data untuk Misi variasi, menyimpulkan bahwa:

   1. Buah tin kering terkaya akan serat, tembaga, mangan, magnesium, kalium, kalsium, dan vitamin K, relatif diperlukan terhadap kebutuhan tubuh manusia.
   2. Buah tin karena kaya kandungannya akan serat, maka mampu mengurangi berat badan. Oleh karena itu Buah tin sangat sesuai mengatasi masalah berat badan.
   3. Buah tin juga kaya dengan vitamin A dan B serta kadar tertentu dari vitamin C. Dan mengandung garam pokok seperti: Kalsium, fosfor, zat besi yang membangun pertumbuhan badan dan pembangkit tekanan darah.
   4. Kandungan-kandungan buah tin seperti serat, kalium, dan magnesium dapat mengurangi serangan angin dan mampu mengontrol tekanan darah tinggi.
   5. Dalam sebuah studi, 40 gram bagian buah tin kering (dua ukuran medium tin) menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam kapasitas antioksidan plasma dalam darah.
   6. Gabungan zat yang terkandung dalam buah tin yaitu serat yang tinggi dan karbohidrat dalam bentuk yang ringkas, yaitu glukosa dan fruktosa mampu mengontrol kadar gula darah seseorang.
   7. Hasil penelitian dalam 100 gram buah Tin, mengandung 20% daripada kebutuhan zat serat harian tubuh kita. Dari jumlah tersebut, lebih 28% adalah jenis serat terlarut. Penelitian menunjukkan, bahwa serat terlarut bisa membantu gula dalam darah dan mengurangi kolesterol dalam darah dengan mengikatnya di dalam saluran pencernaan, manakala serat tidak larut, dapat melindungi dan mencegah kanker usus besar (koion) .
   8. Tin memiliki jumlah yang lebih kecil dari banyak nutrisi lain, ia memiliki efek pencahar dan mengandung banyak antioksidan, merupakan sumber yang baik flavonoid dan polyphenol.
   9. Kandungan serat yang terdapat di dalam buah tin dapat memperlahan proses penyerapan glukosa di usus kecil, untuk itu sangat cocok bagi penderita penyakit kencing manis.
  10. Buah tin dipergunakan sebagai bahan pelancar (laxative), penahan sakit dan unsur perkumuhan air kencing (diuretik).
  11. Buah tin mengandung khasiat yang tinggi jika dibandingkan dengan buah-buahan yang lain, ia tidak mengandung garam, lemak dan kolesterol, tetapi mengandung lebih tinggi kalium, serat dan zat besi.
  12. Buah Tin dipercayai mempunyai bahan yang dapat melawan kanker, ia mengandung "polyphenols" yang tinggi berfungsi sebagai antioksidan yang amat penting bagi tubuh, karena dapat berfungsi sebagai free radical dalam tubuh yang menyebabkan kanker.
  13. Buah Tin juga mengandung unsur lain yang menjadi bahan anti kanker, yaitu "benzaldehyde" dan "coumarins". "Benzaldehyde" telah terbukti mampu bertindak sebagai bahan anti tumor sedangkan "coumarins" adalah untuk merawat kulit dan kanker prostate.
  14. Buah tin telah dikenal kemujarabannya oleh ahli pengobatan tradisional pada dekade terakhir ini, khususnya pengobatan herbal, dan diakui secara medis menyembuhkan berbagai penyakit seperti: Mengobati luka-luka, borok, flu burung, maag, gangguan sirkulasi menstruasi pada wanita dan luka bakar.
  15. Buah tin kering mengandung kadar gula tinggi, dan sangat bagus dikonsumsi oleh anak-anak, orang diet dan olahragawan, tetapi hendaknya dihindari oleh penderita gula tinggi dan kolesterol.

    Tips Penyembuhan Buah Tin Kering:

Pernah sekali - di bulan Ramadhan 2008 – penulis terserang batuk berat disertai dahak yang kental, oleh seorang kuli angkat di Casablanca, International Foire menyarankan mengambil 7 buah tin kering (cherrehah dalam bahasa Maroko), dibelah dan diisi masing-masing 1 biji bawang putih, lalu digoreng pakai minyak zaitun, dan – Alhamdulillah – hasilnya sangat mujarab sekali. Silahkan coba.

    KEDUA: BUAH ZAITUN:

    Pohon Zaitun di dalam al-Qur'an:

    وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ

    Artinya: "Demi (buah) Tin dan Zaitun" (QS: 095: 1)


ZAITUN POHON MULIA TERTUA DI MUKA BUMI:

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ

    (Demi Tin dan Zaitun)

    Oleh: Med HATTA

      Sambungan Dari: KHASIAT BUAH TIN DAN ZAITUN DALAM AL-QUR'AN

Pesan Bukunya Sekarang!
Tema ini diambil dari nama surah ke-095 dari al-Qur'an, yang juga merupakan ayat pertama dari surah tersebut, yaitu tentang buah tin dan buah zaitun. Allah SWT bersumbah demi tin dan zaitun karena kemulian dan keagungan kedua buah surgawi itu, seperti yang akan diuraikan dalam tulisan sederhana ini,  yang disadur dari buku ke-2 penulis: "Mukjizat Pengobatan Herbal dalam al-Quran", sebagai berikut. Bagian Pertama (Pohon Tin) sudah ditulis pada postingan beberapa waktu lalu, (Lihat Kembali: KHASIAT BUAH TIN DAN ZAITUN DALAM AL-QUR'AN). Sekarang tinggal membahas bagian kedua tentang buah zaitun di dalam al-Quran, sebagai berikut:

    KEDUA: BUAH ZAITUN:

    Pohon Zaitun di dalam al-Qur'an:

    وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ

    Artinya: "Demi (buah) Tin dan Zaitun" (QS: 095: 1)

    وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُتَرَاكِبًا وَمِنَ النَّخْلِ مِنْ طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَجَنَّاتٍ مِنْ أَعْنَابٍ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ انْظُرُوا إِلَى ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَيَنْعِهِ إِنَّ فِي ذَلِكُمْ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

    Artinya: "Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman" (QS: 006: 99)

    وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ جَنَّاتٍ مَعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

    Artinya: "Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan" (QS: 006: 141)

    يُنْبِتُ لَكُمْ بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُونَ وَالنَّخِيلَ وَالأعْنَابَ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

    Artinya: "Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan" (QS: 016: 11)

        Pohon Mulia Tertua di Dunia:

    Allah SWT berfirman: "Dan pohon kayu keluar dari Thur Sinai", yaitu "Pohon Zaitun" sebagaimana telah disepakati oleh semua ahli tafsir dan pakar-pakar islam lainnya.

    Pohon zaitun merupakan salah satu pohon tertua yang tumbuh dimuka bumi, daunnya selalu hijau yang tingginya mencapai 15 meter. Pucuk daunnya sedang (tidak besar dan tidak pula kecil), berbunga kemudian menghasilkan buah setelah berusia 4 tahun dan akan memproduksi buah secara terus-menerus selama sekitar 2000 tahun. Pohon zaitun berumur panjang, hingga satu pohon usianya bisa mencapai 5000 tahun.

    Oleh sebab itu, Allah mengistimewakannya dan menyebutnya sebagai pohon mulia. Hanya pohon zaitunlah satu-satunya memperoleh predikat tersebut. Zaitun tergolong jenis pohon-pohonan penghasil minyak, mampu beradaptasi dengan musim kering yang berkepanjangan. Ia tumbuh dengan amat pelan tetapi umurnya sangat panjang.

    Pohon-pohon zaitun rata-rata berumur panjang, sekalipun dahan dan batang-batangnya telah mati, pohon zaitun mampu untuk tumbuh kembali dan menghidupkan lagi pohonnya dengan dahan dan tangkai-tangkai baru.

    Dikisahkan bahwa seekor burung merpati meninggalkan bahtera Nuh as ketika peristiwa topan besar, kemudian merpati putih itu pulang sambil membawa pucuk tangkai zaitun, menandakan bahwa murka Allah telah berakhir pada kaum Nuh as, dengan demikian menjadilah zaitun sebagai simbol perdamaian.

        Pohon Thur Sinai Moyang Zaitun:

    Pohon zaitun telah dikenal manusia purba sejak ribuan tahun lalu, tergolong pohon tertua di dunia. Lukisan-lukisan pohon zaitun banyak memenuhi tempat-tempat peninggalan Mesir kuno pada kuburan-kuburan Fir'aun. Kawasan Timur Tengah merupakan negeri asal pohon zaitun. Para ahli sejarah dan riset menyebutkan bahwa pohon ini berpindah dari kawasan Timur Tengah menuju ke Eropa kemudian ke bagian-bagian dunia lainnya.

    Berdasarkan ilmu botani dan al-Qur'an, para ahli tersebut merincikan lebih detail bumi asal pohon zaitun, yaitu "Bukit Thur Sinai". Allah berfirman:

        Artinya: "Dan pohon kayu keluar dari Thur Sinai (pohon zaitun)"

    Kitab-kitab tafsir (klasik dan modern) semua berkomentar bahwa pohon yang dimaksud oleh ayat adalah "Pohon Zaitun". Adapun kata "Takhruju" (keluar): menunjukkan bahwa bumi asalnya adalah bukit Thur Sinai, kemudian dari sanalah keluar kepelosok-pelosok dunia dan dikenal luas umat manusia. "Wallahua'lam".

            Pohon Asli Thur Sinai:
            Allah berfirman:

             وَشَجَرَةً تَخْرُجُ مِنْ طُورِ سَيْنَاءَ تَنْبُتُ بِالدُّهْنِ وَصِبْغٍ لِلآكِلِينَ

            Artinya: "Dan pohon kayu keluar dari Thur Sinai (pohon zaitun), yang menghasilkan minyak dan pemakan makanan bagi orang-orang yang makan" (QS: 023: 20)

            فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ مِنْ شَاطِئِ الْوَادِ الأيْمَنِ فِي الْبُقْعَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ أَنْ يَا مُوسَى إِنِّي أَنَا اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

            Artinya: "Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu:"Ya Musa, Sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam" (QS:028:30).

            Fakta Pohon Thur Sinai:

        Semua pasti bertanya, pohon apakah gerangan yang dimaksud ayat ke-20 dari surah al-Mu'minuun yang keluar dari Thur Sinai di atas? Apa saja pendapat ahli tafsir tentang ayat tersebut? Berikut ini penulis me-relist tanggapan-tanggapan mereka, seperti:

        Imam at-Thabari dalam tafsirnya menyebutkan: "Wa syajaratan takhruju min Thur Sina" (Dan pohon kayu keluar dari Thur Sinai), kata "Wa syajaratan" berbaris atas mengikuti kata "Jannaatin" sebelumnya. Artinya adalah "Pohon Zaitun".

        Ibnu Katsir: "Wa syajaratan takhruju min Thur Sina" (Dan pohon kayu keluar dari Thur Sinai), adalah "Pohon Zaitun". Sedangkan "at-Thur" ialah nama sebuah bukit di Sinai, sebagian ahli tafsir mengomentari bahwa dinamakan "Thuran" (Thur = bukit) karena ditumbuhi pohon-pohonan, kalau gundul dinamakan "Jabalan" (gunung).

        Dan "Thur Sina", yaitu thur sinin atau thur Sinai, adalah nama sebuah bukit dimana Allah SWT menyapa langsung Musa bin Imran as dan disekitar bukit tersebut terdapat pohon zaitun.

        Adapun firman Allah selanjutnya: "Yang menghasilkan minyak" yaitu pohon zaitun itu dapat mengeluarkan minyak.

        Oleh karena itu dikatakan pada lanjutan ayat: "Dan pemakan makanan bagi orang-orang yang makan" Bahwa minyak yang keluar dari zaitun itu dapat menjadi padanan roti atau makanan apa saja di makan manusia, seperti menyelupkan atau mengisi roti dengan minyak zaitun, lalu dimakan dengan lezatnya. Rasulullah SAW bersabda: "Makanlah dengan minyak (zaitun) dan celupkanlah rotimu dengannya, karena minyak itu keluar dari pohon yang mulia" [1].

        Penulis Tafsir Jalalain: (Kesimpulannya), menganggap bahwa yang dimaksud ayat adalah pohon zaitun.

        Pohon Pembawa Berkah:
        Allah berfirman, artinya:

        * "Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu" (QS: 024: 35)
        * "Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu:"Ya Musa, Sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam" (QS: 028: 30)

    Pohon zaitun disebutkan sebanyak delapan kali di dalam al-Qur'an, sekali di antaranya dalam bentuk sumpah, dimana Allah apabila bersumpah atas suatu makhluk-Nya pastilah yang disumpahkan tersebut sesuatu yang sangat istimewa dan bermanfaat ganda, sebagaimana dijelaskan pada kajian pohon tin di atas karena Allah SWT pada waktu yang sama dan di ayat yang sama bersumpah: "Demi pohon tin dan pohon zaitun". (Lihat: kajian sebelumnya).

    Menjadikan lebih istimewa lagi pohon zaitun ini karena disebutkan oleh Allah pada dua tempat di dalam al-Qur'an sebagai pohon pembawa berkah, Allah berfirman:

        * Artinya: "(Dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berberkah, (yaitu) pohon zaitun" (QS: 024: 35)
        * Artinya: "Pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu (pohon zaitun)" (QS: 028: 30)

    Antara lain berkah pohon ini yang diperincikan Allah; pada ayat ke-35 dari surah An Nur dikatakan: "Yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api".

    Sedangkan di ayat ke-30 dari surah al-Qashash diceritakan bahwa tatkala Musa as pergi bersama keluarganya meninggalkan Madyan menuju kota Fir'aun Mesir, di tengah perjalanan di malam hari, Musa melihat api (cahaya) dari ranting sebatang pohon zaitun di kawasan bukit Thur Sinai, dan ketika Musa mendekatinya Allah berseru kepadanya:

        Artinya: "Ya Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam".

    Dan di bawah pohon zaitun itulah Musa resmi dinobatkan sebagai nabi dan rusul untuk bani Israil.

    Fakta Sains Pohon Zaitun:

Negeri asal zaitun adalah Asia, terutama Suria, Libanon, Yordania, Palestina, dan lebih khusus negara-negara pesisir perairan Mediterania seperti: Turki, Italia, Spanyol, Tunis, Aljazair, dan Maroko. Dan dapat ditemukan juga di negara-negara seperti: Chili, Peru, dan juga Selatan Australia.

Pohon zaitun berwarna hijau sepanjang masa, buah zaitun terbesar yaitu hasil budidaya ahli botanik Spanyol. Dan negara yang memproduksi minyak zaitun terbesar adalah Italia dengan rata-rata produksi mencapai 33 juta gallon per-tahun.

Normalnya pohon zaitun memproduksi buah pada usia 2 tahun, dan pada tahun keenam pohon zaitun sudah bisa mengembalikan biaya perawatannya. Buah zaitun diperas untuk mengeluarkan minyaknya, dan minyak zaitun dapat dijadikan produk sabun dengan campuran bahan sodium hidrocide.

    Pohon Zaitun Tumbuhan Herbal Berkualitas Tinggi:

Produk-produk pohon zaitun yang mengandung khasiat herbal, yaitu: minyak zaitun, daun, buah, kulit pohon zaitun. Kandungan-kandungannya terdiri dari: Asam Benswik, dan bahan-bahan lain seperti Olivile, dan gula disebut "Mannite" yang terdapat pada daun hijau dan buah zaitun.

Minyak zaitun juga mengandung Plorite "Triolein Tripalmitin", terdapat juga bahan seperti "arachidic esters", dan sedikit mengandung bahan acid yang disebut "free oleic acid". Selain itu zaitun juga mengandung air dan kandungan mineral yang cukup banyak seperti kalsium, pengawet, dan vitamin-vitamin: (E, B2, PP, B1, dan vitamin A).

Dan kandungan gizi yang terdapat pada buah zaitun hitam lebih banyak dari yang ada pada buah zaitun hijau. Sedangkan pada daun zaitun terdapat kandungan-kandungan kimia berupa "Oleuropein acid", yaitu jenis racun berbahaya untuk membunuh jenis-jenis kuman, virus, bakteri-bakteri, dan jenis-jenis cacing.

    Kegunaan dan Khasiat-khasiat Natural Zaitun:

    * Daun Zaitun mengandung daya tangkal yang efektif dan mencegah berbagai penyakit, air rebusan daun zaitun dan kulitnya dipergunakan untuk menurunkan panas yang efektif.
    * Daun zaitun juga mengandung bahan-bahan natural membunuh mikrobat, jenis-jenis virus, dan bakteri-bakteri.
    * Daun zaitun mengobati penyakit yang baru ditemukan disebut (CFS) "Chronic Fatigue Syndrome".
    * Daun zaitun mengobati penyakit yang disebabkan oleh virus Herpes.
    * Daun zaitun membantu meringankan penderita AIDS yang disebabkan oleh HIV, atau daun zaitun menguatkan kekebalan tubuh menangkis serangan virus HIV.
    * Daun zaitun membantu mengurangi stress tubuh, kelelahan fisik, mengurangi dampak nyeri-nyeri disebabkan oleh penyakit menahun yang parah seperti: Aids, kanker, meringankan beban penderita, dan melawan virus-virus yang menyebabkan penyakit-penyakit berat tersebut dengan dua cara: Pertama, mencegah penyebaran virus-virus ganas itu, dan kedua, mengaktifkan dan mengontrol fungsi kekebalan tubuh untuk menciptakan jaringan-jaringan khusus membunuh virus-virus yang menyerang.
    * Daun zaitun mengobati penyakit-penyakit flu dan influenza yang tidak dapat dicegah dengan anti-biotik.
    * Minyak zaitun dan daunnya berguna untuk mengobati penyakit jantung karena menurut hasil penelitian bahwa kedua produk zaitun ini dapat menurunkan tekanan darah dan mengurangi kolesterol.
    * Minyak zaitun memberikan kelembutan natural, melembutkan kulit dan wajah. Minyak zaitun dipergunakan untuk berbagai produk-produk kecantikan seperti: Krim Rambut,  produk-produk krim untuk wajah, dan sabun.
    * Olesan minyak zaitun dapat menghilangkan gatal-gatal, mencegah pengelupasan kulit, bintik-bintik, dan alergi. Mengobati luka memar, luka terbakar, dan sengatan sinar matahari.
    * Minyak zaitun dipergunakan bersama dengan obat-obat tertentu untuk mengobati penyakit kulit dan lemak. Minyak zaitun menguatkan rambut, memberikan kelembutan dan kesegaran.
    * Rebusan daun zaitun membantu menurunkan kadar gula darah.
    * Mengobati nyeri otot, persendian, dan nyeri-nyeri lainnya.
    * Minyak zaitun dapat mencegah dan mengurangi strechmark pada wanita hamil atau habis melahirkan.
    * Minyak zaitun memperlancar BAB dan membantu membuang batu ginjal lewat buang air besar.
    * Minyak zaitun mengobati penyakit-penyakit dada dan dipergunakan untuk meringankan penderita cacar.
    * Riset telah membuktikan bahwa minyak zaitun efektif mencegah kanker.
    * Minyak dan buah zaitun menguatkan penglihatan, mencegah rabun malam berkat kandungan vitamin A yang tinggi, dan mencegah kelelahan kelopak mata.
    * Memperkuat daya seksual karena mengandung vitamin A dan E.

    Catatan:

   1. Hadits lain diriwayatkan oleh 'Abed bin Hamid dalam musnadnya dari Umar, Rasulullah SAW bersabda: "Berselei-lah dengan minyak (zaitun) dan celupkanlah roti (makananmu) dengannya, karena minyak itu keluar dari pahon yang mulia".

Ayam VS Keledai


Labels

loading...

Copyright @ 2017 Titian Tasbih.

Designed by Aufa | Probiotik